Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Malam dan Pujangga

Malam yang kelam, para pujangga mulai bermalam. Cahaya rembulan terang benderang, bersama gemerlap lampu-lampu jalanan. Indah di pandang, suasana malam begitu menyejukkan. Mata mulai memandang, keadaan riang gembira mulai mengundang.

Di lokasi itu, para pujangga bersua bersama. ditempat yang syahdu penuh ceria. Kini malam pun mulai menyapa, duduk bersama penuh sahaja. Mereka terlihat dengan wajah bahagia, mungkin karena bersyukur atas nikmat sang pencipta.

Perlahan suasana terus bergema, huru hara jalanan ramai terdengar. Pelataran jalan menjadi muara pujangga, dan kendaraan berlalu lalang ikut terdengar.
Tawa dan canda menghiasi tempatnya, terdiam pilu bagi yang sedang berduka. Seketika raut wajah sontak gembira, karena candaan iringi kata demi kata. Wajah bahagia itu, menutupi perasaannya. Riang gembira mengikuti suasana. Perlahan mulai bersuara, mengeluarkan kalimat untuk mengimbanginya.

Tak ada kisah pilu yang terlihat, seolah tak ada beban yang ditunjukkan. Namun kondisinya mulai mengubah haluan, seolah ingin melepaskan kegundahan secara terang-terangan.

Malam begitu bersahabat dengan pujangga. Selalu menyapa di setiap malam, menyatu padu dalam kebersamaan. Tak perlu menampakkan kegundahan, karena sudah keniscayaan setiap insan untuk terus dijalankan.

Keheningan malam sudah menunggu, pelataran kota mulai membisu. Para pujangga terdiam pilu, begitu khusyuk meneguk kopi yang merasuk di qalbu. Dinginnya malam terus menyatu, bagaikan malam di kelam syahdu.

Namun saatnya rembulan tak dapat dipandang, pelataran jalan mulai sepi di pandang. Para pujangga membisu tak berdendang, sebagai tanda akhir dari bertandang.