Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Syair: Rembulan

Sejak pagi dan menjelang malam cahaya matahari pun mulai sirna. Secara bergantian Rembulan hadir pada malam hari. Tugas keduanya memiliki peran yang berbeda, namun selalu nampak dalam situasi dan kondisinya. 

Matahari terbit diwaktu pagi dan terbenam di sore hari. Sedangkan bulan, menggantikan perannya. Muncul sejak malam, sampai tengah malam dan hilang saat menyambut waktu pagi. Kembali lagi, matahari berperan setelah lelap dalam tidurnya. 
Sama hal dengan aktivitas penduduk bumi. Langit memiliki benda-benda yang selau dihadirkan di waktu malam dan siang. Tapi semua tidak bisa bersama, karena punya peran masing-masing. 

Nah, begitulah perkiraannya, suasana setelah senja sampai di waktu malam. Sehingga terbitlah syair ini, berjudul: Rembulan

Judul: Rembulan

Senja telah hilang, purnama mulai menyapa.
Menerangi kegelapan, kemilau rembulan paripurna. Haruskah terdiam, duduk dan memandangnya. Tersenyum padu karena keindahannya. Menyinari bumi dan menghadirkan gelora. Menyatu padu dalam kebersamaan, bukan fatamorgana. 

Gelap tapi cahaya rembulan, muncul menerangi suasana. Indah di pandang, gemerlap bertabur sinarnya. Tersenyum padu dimalam, dan memandang terkesima. Menghela nafas, merasakan suka duka. Cerita dan perjalan yang tak pernah sirna. Merangkai kata, berisi harapan dan doa. Bermunajat penuh rasa, tercurah di dalam jiwa.

Bulan nampak bersinar, seperti wajah yang mempesona. Menepis gelap dimalam, penuh tanda tanya. Akankah bulan berbicara dan bertanya. Menjelma moksa, seolah ingin bercanda. Duhai rembulan, keberadaan mu bermandikan cahaya. Menemani langkah, dimalam yang sekata.

Kilaunya memancarkan, terdiam tinggi di semesta. Kapankah dapat menjangkau, seperti memetik wajah indah penuh pesona. Terdiam karena cahaya suci, menyilaukan mata. Memandang dan memuja kehadiran, purnama di atas angkasa. Gelap sirna karena menyilaukan mata, memandang penuh suka cita.