Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cerpen: "Syair Pembawa Berkah"

Cerita Pendek
Judul: "Syair Pembawa Berkah"

Setiap hari seorang laki-laki itu, bekerja untuk menghidupi keluarganya. Ardi, merupakan seorang laki-laki yang juga memiliki impian sejak muda. Ia tinggal bersama keluarga kecilnya dan bekerja di salah satu perusahan di kota yang tak jauh dari kediamannya.  

Ardi adalah seorang laki-laki pekerja keras. Aisyah adalah istri yang baik, soleha dan bijaksana. Ia sangat suka membaca dan mentadaburi Al-Qur'an. Mereka hidup sederhana dan bahagia bersama keluarga kecilnya. Ardi memiliki keahlian dalam bersyair, sesuai dengan pekerjaan yang dijalaninya.

Suatu hari, ia mengalami kecelakaan tragis di perjalanan sepulang kerja dan mengharuskannya untuk cuti dalam waktu yang lama. Walaupun cedera kaki, Ardi masih bisa bernafas dan berusaha melakukan pemulihan.

Berkat Tuhan, hari demi hari kesehatannya pun berangsur pulih. Namun hatinya seakan hancur dan mengalami trauma dengan kejadian itu. Di awal pemulihan, Ia tak dapat menopang tubuhnya tanpa bantuan kursi roda, sampai beralih menggunakan tongkat besi itu, membuatnya perlahan bisa berjalan.
Namun dalam fase pemulihan kesehatan, tubuhnya seringkali merasakan sakit. Terkadang perasaan sedih menyertai dirinya. 

Suatu pagi, ia berjalan ke meja makan, raut kesedihan seringkali terlihat dari wajahnya. Tak lama, istrinya datang ke meja makan itu, dengan senyum semangat, dan menyiapkan sarapan kesukaannya. Ia tersenyum kepada Ardi dan berusaha menenangkannya. 

Tiba-tiba Istrinya berkata: "Bang, kita punya hak untuk menjalani hidup dalam kondisi apapun. Walaupun kondisinya mulai berbeda, tapi Tuhan tak pernah lengah dan membiarkan hambanya begitu saja. Ada banyak hikmah dan berkah, kita harus tetap semangat menjalani hidup dengan penuh syukur dan selalu mengandalkan tuhan di setiap langkah". 

Dengan nada santun Aisyah melanjutkan perkataannya. "Aku akan selalu ada untuk mu. Selama kita menikah, aku mulai menyisihkan sisa uang belanja. Mungkin, ini bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan, sampai engkau kembali sehat". Ujarnya, sambil menyuapi ardi dengan masakan kesukaannya. 

Selesai sarapan, Aisah menyiapkan kopi hangat untuk suaminya dan kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan anak-anak yang masih terlelap di pulau kapuk itu, dalam mimpi yang indah. 

Sementara Ardi, termenung dan perlahan meneguk kopi hangat sang istri. Dalam benaknya, ia mulai memaknai kata-kata istrinya. Meskipun seringkali wajahnya berlinang air mata dan mulai menerima kenyataan hidup yang menimpanya.

Hal yang dipikirkan oleh Ardi, bagaimana bangkit dan kembali semangat dalam hidup, memberikan yang terbaik untuk keluarga kecilnya. Ia mulai sadar dan memahami kalimat yang diucapkan istrinya. "Bersyukur dan mengandalkan Tuhan di setiap langkah". 

Hari berganti hari, waktu pun kian berlalu. Keadaan Ardi, sudah bisa berjalan dan menggunakan bantuan tongkat besinya. Walaupun dalam keterbatasan, namun ia dapat kembali beraktivitas. 

Ia sangat bahagia, Keluarganya sangat menyayanginya. Terutama istrinya selalu setia menemani bersama anak-anaknya dikala suka maupun duka. 

Berkah Tuhan, terus menyertai hidupnya. Pada suatu hari, kondisi Ardi yang sehat itu, mulai terdengar oleh atasan. Kehadirannya mulai di nantikan dan dapat kembali mengabdi di tempat ia bekerja. 

Mendengar kabar itu, ia segera memberitahu Aisyah dikamar yang sedang mengajarkan ayat-ayat pendek kepada putra sulungnya. Dari depan pintu kamar tidur, ia berkata dengan senang, sambil menyampaikan kabar tersebut. 

Aisyah pun terdiam sejenak, lalu ia berkata ke putra sulungnya: "Nak, baca kembali Surah ke 112 itu, Al-Ikhlas. Kamu pasti bisa menghafalnya, Ibu bangga padamu, Ayo sayang". Dengan nada santun dan lugu si sulang menjawab: "Baik Ibu", kata si sulung.

Aisyah tersenyum, ia langsung mengusap dan mencium kepala anaknya. Lalu ia bangkit mendekati Ardi, dan menutup pintu kamar tidur itu, supaya anaknya tak mendengar, apa yang dilakukan kedua orangtuanya. Mereka bercakap tanpa sepengetahuan anaknya.

Ardi memperjelas kabar tersebut, bahwa ia sudah bisa kembali bekerja. "Aku minta doa restu mu, mungkin inilah salah satu berkah yang tuhan berikan. Aku harus semangat", kata Ardi dengan istrinya.

Kemudian Ardi perlahan mendekati istrinya, seperti sudah tak sabar untuk bekerja.

"Kita tahu syair adalah salah satu budaya kita, sastra Indonesia yang terkenal sejak dahulu. Mungkin dengan bersyair ini, menjadi pekerjaan yang sudah digariskan Tuhan padaku", Ucap Ardi sambil tersenyum.

Melihat raut wajah bahagia sang suami,
Aisyah pun menangis sambil memeluk dan memegang kepala suaminya dengan penuh kasih sayang.  Disisi lain, Ia terharu, merasa
tak tega melihat kondisi suaminya. 

Namun karena keinginan Ardi untuk kembali bekerja, Aisyah pun mendukungnya. Sambil menganggukkan kepalanya dengan nada santun ia berkata: "Jika memang sudah siap, lakukan yang terbaik. Jangan lupa, andalkan Tuhan. Aku akan selalu mendukung dan mendoakan mu" Kata Aisyah sambil tersenyum, dengan mata yang berkaca-kaca. 

Aisyah kembali ke kamar, menemani anaknya belajar. Kemudian, selesai belajar si sulung pergi bermain di luar rumah. Sementara Ardi, langsung menuju ke kamar itu dengan gembira, ia senang mendapat dukungan dari istrinya untuk kembali bekerja.

Pada suatu hari, Ardi mulai bekerja di perusahaan itu. Keadaanya sudah sehat dan bisa beraktivitas seperti biasanya. Keahliannya dalam menulis, mendapatkan kepercayaan perusahan di tempat ia mengabdi. 

Setiap hari ia bekerja dengan baik, dan menulis berbagai topik. Ardi sangat senang dengan kehidupan dan pekerjaannya. Melalui syair yang dikuasai, ia mampu berperan, walaupun dalam keterbatasan.

Semangat dalam hidupnya sangat menginspirasi dan selalu bersyukur atas karunia sang pencipta. Berkat kesabarannya itulah, Tuhan selalu mengiringi langkahnya. Ia merasakan kebesaran Tuhan yang begitu luar biasa. 

Kehidupan Ardi tak lepas dari berkah Tuhan, Ia mampu bekerja dan menggunakan keahlian yang dimilikinya dengan bersyair. Ia mampu mengabdi kembali, memberikan yang terbaik bagi perusahaan dan keluarganya.

Kini kehidupan ekonomi keluarganya mulai pulih. Ia hidup dan damai bersama keluarga kecilnya. Rasa haru seringkali terbesit dibenaknya. Rasa syukur senantiasa ia haturkan kepada Allah SWT, yang selalu memberikan rahmat dan karunia pada keluarganya. ~SEKIAN~