Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Gitar Tunggal Musik Tradisional

Gitar Tunggal adalah musik tradisional Indonesia yang berkembang dari Sumatera Selatan. Dalam penyebutan lain dikenal dengan istilah Batang Hari Sembilan yang dimainkan dengan cara dipetik.

Batang Hari Sembilan adalah kebudayaan yang berbasis pada sungai. Kebudayaan ini ialah kebudayaan agraris yang selaras pada alam. Musik Gitar Tunggal diekspresikan dengan nuansa romantik, melonkolik dan naturalistik.

Gitar tunggal dapat dinyanyikan dengan berbagai lagi daerah. Musik melayu yang unik memberikan nuansa yang tentram dan damai. Apalagi saat berkumpul sambil menikmati kopi yang nikmat.
Pengambilan nama Batang Hari Sembilan mengikuti dari sembilan anak sungai Musi. Sungai Musi adalah sungai terbesar di kota Palembang dengan dua bagian.

Batanghari Sembilan adalah istilah dalam penyebutan "tradisional" untuk sembilan buah sungai besar yang merupakan anak Sungai Musi, yaitu: Klingi, Bliti, Lakitan, Rawas, Rupit, Lematang, Leko, Ogan, dan Komering. 

Selain itu, istilah Batanghari Sembilan mengacu pada wilayah. Hal tersebut merupakan sebutan lain dari kawasan Sumatra Bagian Selatan (Sumsel, Jambi, Lampung, Bengkulu) yang memiliki sembilan sungai (batanghari) berukuran besar. 

Batanghari dalam beberapa bahasa lokal di Sumatra selatan, misalnya bahasa Rambang (Prabumulih) atau bahasa Bindu (Kecamatan Peninjauan) berarti sungai, bersinonim dengan kali (Jawa) atau river (Inggris). 

Pada perkembangan selanjutnya, batanghari sembilan juga bermakna budaya sebagai budaya batanghari sembilan, di antaranya adalah musik dan lagu batanghari sembilan (selanjutnya batanghari sembilan). 

Secara garis besar musik dan lagu batanghari sembilan adalah salah satu genre seni musik atau lagu daerah yang berkembang di Sumatra Selatan layaknya di daerah lain Indonesia. 

Di masa lalu masyarakat memiliki alat-alat musik tradisional seperti Serdam, Ginggung, Suling, Gambus, Berdah dan Gong untuk mengiringi tembang atau rejung atau adakalanya mereka melantunkan tembang tanpa alat dan tanpa syair ?meringit?. 

Selain itu adalagi sastra lisan seperti guritan, andai-andai, memuning dan lain-lain. Pads saat ini sudah langka yang dapat melakukannya. 

Perkembangan zaman modern membuat masyarakat menggunakan peralatan modern, yang menyebabkan alat tradisional tersebut bertambah atau berganti alat-alat baru seperti Accordion (ramanika), Biola (piul) dan Guitar (itar). 

Sejak tahun enam puluh-an didominasi oleh Gitar Tunggal (hanya mempergunakan dan hanya satu gitar saja) untuk mengiringi tembang. Tembang tersebut biasanya hanyalah berupa Pantun empat kerat bersajak a-b a-b, bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Melayu.(Sumber: https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id)