Mengenal Adat Pernikahan Masyarakat Aceh


Adat pernikahan di Provinsi Aceh juga tak kalah unik. Kegiatan yang sudah menjadi Budaya secara turunttemurun tersebut merupakan sebuah identitas masyarakat yang harus dilestariakan. sebagai sebuah ciri khas dari sebuah suku yang ada, tentu memiliki perberbeda yang signifikan terahadap budaya lainnya yang ada diseluruh Indonesia.

Diketahui bahwa Masyarakat Aceh disebut sebagai masyarakat dengan karakter pluralistis dan juga bersifat “Terbuka”. Tepat di daerah khusus Nanggroe Darussalam masyatakat yang tinggal terdiri dari banyak kalangan, memiliki keragaman yang berbeda-beda pula. Namun, pada masyarakat aceh sendiri terdapat beberapa subetnis seperi halnya suku lain yang tersebar di tanah air.

Suku aceh sendiri tergolong yakni Aceh, gayo, Aneuk Jamee, alas, singkil, tamiang, dan Kluet, juga terdapat Simeulu. Diantara subetnis yang tertera diatas tersebut, dimana disetiap etnis juga mempunyai adat budaya yang berbeda-beda pula, perbedaan inilah yang menjadikan sebuah kebanggaan tersendiri.

Hal ini dikarenakan walaupun berbeda akan tetapi memiliki keistimewaan yang patut di pertahankan sebagainwarisan leluhur di setiap suku yang tersebar dipelosok negeri.

Untuk itu, agar lebih sepsifik dan terinci untuk menambah pengetahuan di setiap budaya pernikahan di indonesia khususnya daerah aceh perlu kita kenali secara detail bagaiman bentuk dan konsep adatnya.

Membahas tentang budaya sangat wajib kita ketahui sebagai bentuk rasa cinta tanah air dengan adanya keragaman dan perbedaan, sehingga memudahkan kita untuk mengenal tradisi yang hingga saat ini tetap dilestarikan oleh masing-masing daerah.

Mengenal Adat Pernikahan pada Masyarakat Aceh

Provinsi aceh yang terletak diujung pulau sumatera sudah sangat terkenal dengan julukan serambi mekah ini memiliki budaya yang unik. Memiliki wilayah dengan alam yang subur serta didukung pariwisata yang menarik menjadikan daerah aceh sebagai tempat untuk para pecinta treveling untuk berlibur dan berpetualang.

Berikut adat pernikahan di provinsi aceh sampai detik ini tetap terjaga
diantaranya adalah:


Penjelasan terkait Adat Budaya Perkawinan Masyarakat Aceh

Seperti halnya adat perkawinan di daerah lain, provinsi aceh juga memiliki tradisi upaca ra pernikahan yang sakral dengan nilai-nilai keagamaan. Diketahui bahwa adat Perkawinan aceh merupakan sesuatu yang sangat kental dengan tradisi yang terus terjaga berdasarkan nuansa adat yang sangat dihormati oleh seluruh lapisan masyarakat aceh.

Upacara perkawinan ini merupakan aktivitas yang memiliki tahapan-tahapan tersendiri dimana diawali dari pemilihan pasangan, tahap pertunangan sampai pada prosesi upacara disaat peresmian perkawinan dilangsungkan.

Untuk proses pernikahan yang dilakukan masyarakat aceh tak lepas dari tahapan-tahapan seperti pada adat istiadat umumnya. Dimana kegiatan pernikahan digelar oleh masyarakat Aceh sebelum pesta perkawinan tiba dilakukan acara pengantar lainnya.

Acara pertama diawali terlebih dahulu yakni tiga hari tiga malam dengan melakukan konsep upacara. Konsep ini biasa di sebut masyarakat aceh dengan sebutan "Meugaca/boh gaca" (berinai). Ini dilakukan di rumah masing-masing khusus bagi calon pengantin pria dan pengantin wanita.

Kegiatan ini memberikan hiasan kepada kedua pengantin dibagian kedua belah tangan kemudian kaki pengantin tersebut yang diberikan hiasan yang unik dari "inai". Sembari acara ini berlangsung tepat pada malam harnya selama upacara meugaca/boh gaca dilakukan makan diiringi dengan sebuah pertunjukan seni yang meliputi penampilan tari-tarian rabana, pho, silat, dan hikayat serta meuhaba atau kaba yakni cerita dongeng. Ini bertujuan untuk memeriahkan acara dan sekaligus memberikan hiburan kepada masyarakat selama acara tersebut berlangsung.

Saaat kegiatan di puncak acara yaini pada prosesi peresmian perkawinannya, kemudian akan dipanjutoan dengan mengadakan acara pernikahan. Kegiatan ini dilakukan oleh kadli dimana setelah mendaptkan kuasa atau wakilah dari ayah dara baro sesuai ketentuannya. Selain itu, Qadli yang didampingi oleh kedua orang yang berperan sebagai saksi dan majelis lain hingga dianggap juga sebagai saksi dalam acara tersbut.

Kemudian terdapat istilah jinamai, ini biasa kita sebut dengan mahar yang langsung diperlihatkan kepada seluruh majelis. Selanjutnya dilaksankan kadli untuk membacakan khutbah nikah atau doa nikah yang meliputi lafadz akad nikah, secara fasih dengan diikuti oleh linto baro yang dilakukan secara fasih pula.

 Perlu anda ketahui bahwa, Apabila lafadz yang sudah diucapkan dianggap sempurna, maka kadli akan segera menganggukkan kepala untuk melakukan permintaan sebagai persetujuan dari kedua saksi yang hadir. Apabila terjadi kesalahan atau kurang sempurna maka dari pihak saksi tidak akan menyetujui, melainkan linto harus mengulanginya kembali hingga lafadz nikah yang diucapkan bentul-betul sempurna.

Apabila upacara pernikahan selesai maka lanjut ke linto baro yang akan dibimbing menuju ke pelaminan untuk persandingan bersama kedua mempelai, Namun sebelumnya untuk dara baro agar lebih dahulu menduduki sambil menunggu. Sementara untuk dara baro segera bangkit dari pelaminannya kemudian langsung mengambil posisi untuk melakukan penyembahan kepada suaminya.

Kegiatan seperti penyembahan terhadap suami, masyarakat aceh menyebutnya dengan istilah "seumah teuot linto". Kemudiam setelah dara baro seumah teuot linto tersebut, maka acara selanjutnya yaitu linto baro akan langsung memberikan sejumlah uang, dimana uang tersebut akan diserahkan kepada dara baro sebagai uang sembah yang disebut dengan "pengseumemah".

Selama acara persandingan ini dilakukan, kedua mempelai tersebut akan segera dilakukan bimbingan sebagai pemberian nasehat seputar rumah tangga yang dibimbing secara langsung oleh seorang "nek peungajo" yakni wanita yang sudah berusia lanjut.

Selain itu, untuk kedua mempelai akan diberikan jamuan makan yang ditaruh ke dalam sebuah piring adat dengan sebutan "pingan meututop" dengan bentuk yang indah dan ukuran yang cukup besar.

Kedua mempelai nantinya akan di sunting (peusunteng), ini dilakukan oleh kedua sanak keluarga belah pihak kemudian langsung diikuti oleh para tetangganya. Dari pihak keluarga linto baro juga akan menyuntingi (peusijuk/menepung tawari) dari dara baro serta pihak keluarga dari dara baro pun akan melakukan hal yang sama yakni menyuntingi pula linto baro.

Tiap-tiap orang yang melakukan konsep penyuntingan yang melakukan berbagai tradisi seperti menepung tawari dengan melekatkan pulut kuning kepada telinga temanten tersebut maka sekaligus akan memberikan sejumlah uang, kegiatan ini biasa disebut masyarakat aceh "Teumentuk".

Acara peusunteng sebagai tradisi yang ada dalam adat pernikahan aceh ini dilakukan dengan didahului ibu linto baro kemudian akan disusul secara langsung oleh orang lain secara bergantian sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Apabila kegiatan peusunteng telah usai dilaksanakan, maka seluruh rombongan dari pihak linto baro akan meminta izin yakni pamit untuk kembali pulang ke rumahnya sekaligus membawak Linto baro pulang secara bersamaan. Namun, secara adat untuk linto baro ada kalanya tidak dibawa pulang maka ia tidur di rumah dara baro hingga menunggu pagi hari. Setelah pagi tiba maka linto baro tersebut harus sudah meninggalkan rumah dara baro.

Mengapa demikian?, Karena seperti biasa akan sangat malu apabila seorang linto baro tersebut masih terlihat di rumah dara baro sampai siang. Sudah menjadi aturannya hingga menjelang pagi maka Lonto baro harus sudah tidak di tempat tersebut.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel