Adat Perkawinan Masyarakat Lampung Saibatin Terlengkap

Adat Perkawinan masyarakat lampung saibatin tentu memiliki karakteristik tersendiri yang mengandung nilai-nilai spritual dan kebiasaan secara turun-temurun. Diketahui secara umum bahwa Masyarakat Lampung sendiri memiliki dua suku yakni pepadun dan saibatin.

Berikut Adat Perkawinan Masyarakat Lampung Sai Batin

1. ADAT PERKAWINAN SAIBATIN.

Pada upacara perkawinan harus sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan berdasarkan di Paksi Bejalan Way Sekala Bekhak yang terdiri dari 4 jenis Status Perkawinan, Meliputi:

a. Tradisi Djujor.


Sejak zaman dahulu hingga sekarang adat perkawinan sistem Djujor ini masih dilakukan. Dimana Djujor merupakan konsep dalam upacara perkawinan dimana Muli (Gadis) yang sudah siap membina rumah tangga akan diambil oleh mekhanai (calon suami) untuk dijadikan istrinya.

Maka cara calon pengantin tersebut berserta Keluarga besarnya harus mengeluarkan pembayaran berupa Uang Adat kepada pihak keluarga muli. Untuk besaran jumlah angka berdasarakn keputusan dari pihak keluarga dari Muli tersebut melalui hasil musyawarah bersama.

Kemudian pihak mekhanai juga harus bersedia untuk mengabulkan dan memberikan "Kiluan" dari si calon pengantin wanita yang harus membayar permintaan sari Muli tersebut dan akan menjadi hak bagi calon pengantin wanita. Ibarat kata sistem pernikahan ini pihak laki-laki membeli calon pengantinnya dengan materi sebagai bentuk cara dalam mengikuti aturan adat pernikahan khususnya sistem "Djujor".

Selain itu, adat perkawinan dengan cara djujor ini juga dikenal dengan istilah "Mentudau". Apabila ingin menikaha dengan melakukan sistem ini maka calon pengantin wanita (Muli) akan bersedia untuk meninggalkan keluarganya dengan catatan muli tersebut tidak akan mendapat bagian dari warisan keluarga besarnya meliputi harta benda, bahkan gelar Adoq yang berasal dari Keluarganya tersebut.

Pada saat upacara akan dilaksanakan untuk menggelar pernikahan calon pengantin wanita (Muli) akan diantarkan oleh semua sanak keluarga besarnya untuk menuju rumah tinggal di pihak calon suaminya. Maka terjadilah aturan adat yang menyatakan bahwa calon pengantin wanita ini sepenuhnya akan menegakkan rumah tangga bersama calon suaminya dan menjadi bagian keluarga besar dari pihak suami selamanya.

Namun, biasanya calon pengantin wanita yakni Muli yang mentudau ini membawa barang-barang lengakap rumah tangga saat akan berangkat menuju kerumah calon suaminya. Dimana masyarakat lampung menyebut barang-barang rumah tangga ini dengan sebutan "Benatok". Barang rumah tangga yang dinamakan benatok ini memiliki hak dan kekuasaan sepenuhnya tetap berpegang teguh terhadap Istri.

Begitu juga sang suami tidak ada hak dalam mengatur arah pernak-pernik Benatok tersebut. Termasuk apabila suami ingin memberikannya kepada pihak keluarganya karena ngin memisahkan diri dengan membangun tempat tinggal bersama istrinya harus melalui izin dari sang istri. Jika istri tidak mengizinkan karena barang-barang tersebut memiliki kenangan maka suami pun harus menurutinya yakni dengan merawat barang Benatok tersebut untuk dipakai dalam kehidupan rumah tangganya.

b. Tradisi Semanda Lepas.


Maksud dari adat pernikahan dengan sistem "Semanda Lepas" ini yaitu apabila calon pengantin Pria akan pergi ke rumah calon mempelai wanita dengan niat untuk menegakkan adat jurai dari pihak sang Istrinya, maka Sang Pria tersebut tidak diperbolehkan membawa Istrinya dalam berumah tangga yakni tinggal selamanya bersama dengan keluarga pihak wanita di tempat tinggal tersebut.

Hal ini dikarenakan karena sudah tersirat dalam adat dengan norma aturan yang sudah ditetapkan bahwasanya sang suami sudah dilepaskan dari pihak keluarga besarnya sehingga hidup dan mati dari sang suami harus senantiasa menunggu dengan menegakkan terlebih dahulu Jurai Istri yakni dirumah orang tua Istrinya.

c. Tradisi Semanda Raja-Raja.


Dalam aturan adat pada Semanda Raja- Raja ini diawali dari sang pria yang telah tinggal terlebih dahulu di tempat pihak calon pengantin wanita. akan tetapi tidak menentukan masanya, maksud dari sistem ini adalah si Suami diperbolehkan untuk menunggu calon istrinya di tempat rumah mertuanya sampai Mati ataupun boleh juga menunggu beberapa bulan, bahkan beberapa tahun saja sesuai dengan kesepakatan bersama.

Namun boleh saja apabila kedua belah pihak yakni Istri dan suaminya akan berpindah tempat tinggal dengan harapan mencari kehidupan yang lebih layak, maka pihak keluarganya tersebut tidak boleh melarangnya.

Dalam sistem perkawinan di sini maka kedua pengantin tidak memakai konsep panjang ataupun metode. Karena ini sudah adat istiadat yang berlaku di masyarakat Lampung saibatin.

Jadi, disaat kawinan tersebut sudah selesai digelar maka untuk masalah kehidupan keduanya bersedia untuk tinggal di mana pun berada sesuai dengan kesepakatan dan kehendak mereka berdua. Namun untuk masalah kepentingan keluarga besar adalah tanggung jawab mereka bersama. Cara Perkawinan semacam ini sangat banyak dilakukan oleh sepasang muli mekhanai yang akan berumah tangga.

2. SISTEM SEBAMBANGAN.


Adat sebambangan ini merupakan salah satu cara terakhir dari kedua pasangan pemuda-pemudi yang sudah siap melangsungkan pernikahan dan membina rumah tangga. Terkendala kurangnya restu dari orang tua hingga ketidakcocokan calon pengantin, sehingga sepasang kekasih ini melakukan cara dengan sistem sebambangan.

Apabila kedua pemuda-pemudi yakni sepasang kekasih yang sudah saling mencintai namun tidak mendapatkan restu dari orang tua dan banyak Alasan - alasan lain hingga keduanya tetap memilih komitmen untuk bersama dengan cara sebambangan.

Berikut ini hal-hal yang menyebabkan keduanya melakukan sistem sebambangan antara lain yaitu:

- ketidak sesuaian warga calon kekasih karena Status sosialnya yang sangat berbeda.

- Si Muli biasanya telah dijodohkan kedua orang tuanya kepada orang lain.

- Pihak Pria tersebut sangat keberatan dan tidak mampu untuk memenuhi segala persyaratan-persyaratan yang telah disampaikan oleh pihak keluarga besar wanita yang sangat memberatkan bagi si pria.

Karena dengan komitmen dari sepasang kekasih tersebut, dan merasa keduanya sudah cocok dan tidak dapat dipisahkan lagi sehingga dengan penuh keyakinan dan memutuskan untuk tetap bersama menjalin kehidupan rumah tangga, maka sepasang kekasih tersebut segera mengambil tindakan tanpa meminta persetujuan kepada keluarga perempuannya dengan mengambil jalan Sebambangan.

Cara ini dikenal oleh masyarakat Lampung saibatin dengan sebutan kawin lari, yani membawa kabur calon pengantin wanita tanpa persetujuan orangtuanya.

Namun pada dasarnya adat sebambangan ini tetap memiliki cara tersendiri sesuai dengan adat istiadat yang telah ada. Dimana sebambangan merupakan angka aku kan keduanya tanpa sepengetahuan keluarga perempuan. Oleh karena itu, si perempuan tersebut harus membuat surat secara diam-diam dan ditaruh di kamar tidur tepat dibawah bantal ataupun di dalam lemari pakaiannya.

Surat tersebut berisikan keterangan dan pemberitahuan bahwasanya beliau telah pergi bersama kekasihnya menuju tempat tinggal pria. dirunjukan dengan bunyi Sebambangan kepada siapa, dan alamat tinggal pria nya dimana. Surat tersebut ditarok bersamaan dengan sejumlah uang pemberian dari kelasihnya (mekhanai) sebagai tambahan untuk menggelar kegiatan pernikahan.

Namun pada aturan sebambangan ini, apabila kedua kekasih tersebut belum sampai ketujuannya namun sudah diketahui orangtua si muli maka kedua orangtuanya berhak mencegah dan mencarinya. akan tetapi jika kedua sepasang kekasih tersebut sudah sampai kerumah tujuan maka orang tua Muli tidak diperkenankan lagi untuk mencegahnya.

Biasanya tujuan sebambangan ini dimulai langsung dibawa ke tempat si pria. Sekarang ini yang membawa kabur wanita tersebut biasanya teman kerabat yang dipercaya oleh pria kekasihnya. setibanya di tempat tujuan si pria, maka muli ini diasingkan oleh mekhanainya terlebih dahulu.

Lalu memberitahu kedua orang tuanya sehingga kerabat keluarganya mengetahui dan langsung memanggil kerabat minak muakhinya untuk menyambut si muli yakni kekasihnya tersebut dan langsung "Tilimau" (penyambutan dengan menyiramkan percikan air) baru dipersilakan masuk oleh kelurag besar mekhanai.

3. SISTEM BUKHASAN.

Selain adat yang sudah tertera di atas maka ada istilah "Bukhasan". Bukasan adalah salah satu upaya yang dilaksanakan oleh Kedua keluarga besar dengan cara bermusyawarah untuk mencapai kemufakatan. Perlu Anda ketahui bahwa buka stand ini sendiri memiliki materi tersendiri yakni meliputi:

a. Berdasarkan Status Perkawinan. 


b. memiliki sejumlah Uang Sidang. Dimana masyarakat Lampung saibatin menyebutnya dengan istilah Dau Balak/ Penggalang Sila.

c. Ada juga Dau Lunik yaitu sebuah harapan atau permintaan yang berasal dari Keluarga pihak Wanita.

d. Adanya Pengiluan yaitu suatu permintaan yang datang dari. si Muli.

e. Adanya Semaya yakni penentuan di saat menjelang waktu nikah dan juga waktu buantak'an (mengasihkan).

4. SISTEM NGITA.


Tak bisa dipungkiri dengan banyaknya ragam cara adat pernikahan pada masyarakat lampung khususnya saibatin di daerah pesisir Lampung yang memiliki variasi yang sangat beragam namun tetap dalam koridor Norma adat yang berlaku

Salah satunya adanya sistem lamaran sebelum ditentukannya jadwal pernikahan dari kedua mempelai oleh keluarga besar. Di mana yang dimaksud dengan sistem Mitha”Ngita" ini yaitu sebuah proses yang biasa kita kenal dengan sebutan lamaran. Hal ini dilaksanakan oleh Kedua keluarga besar setelah melaksanakan pertemuan Kedua keluarga dan telah sebutkan kesepakatan bersama melalui Bekhasan.

Di saat acara akan berlangsung maka seluruh keperluan keperluan dalam tahap pelaksanaannya dari sistem Ngita ini yang telah dibahas secara mendetail dan menyeluruh yang meliputi mulai dari persiapan untuk bahan bakar dan makanan pokok seperti beras. Selain itu juga sayuran yang meliputi kelapa, buah -buahan, dan gulai lainnya serta termasuk susunan kepanitiaan yang akan segera disiapkan oleh pihak dari keluarga pria.

Berikut Untuk lebih jelas mengenai perlengkapan dari alat-alat perangkat Ngita yang meliputi:

- Bias Siwok (Beras ketan).
- Kelapa
- Gula
- Siya Buku/uyah (garam)
- Khukun Pengangasan
- Khukun Ngudut
- Pakaian Pissan Minjak
- Khukun Pedom
- Khukun Mandi
- dan Dau Belanja


Semua diatas merupakan keperluan dan perlengkapan dalam sistem Ngita yang patut kita ketahui bersama.

5. SISTEM NAYUH/TAYUHAN ATAU NGEMARA PANGAN.

Adat pernikahan dengan sistem nayuh ini dikenal dengan pernikahan sangat megah yang disebut "Ngemara Pangan". Sebab, dalam menggelar acara yang bertajuk nayuh ini tuan rumah ataupun pihak kedua keluarga besar harus memiliki keuangan yang cukup. Karena dalam pelaksanaannya akan dihadiri oleh banyak tamu undangan baik dari luar maupun dari kerabat sekitar tersebut, dan juga acara pernikahan ini akan diisi dengan berbagai kegiatan adat tari-tarian nyambai dan Budamping.

Diketahui Nayuh merupakan salah satu kegiatan perkawinan masyarakat Lampung saibatin dengan perayaannya dilaksanakan oleh keluarga besar. Namun acara tayuhan ini selain pada Pernikahan, telat pada acara khitanan anak, mendirikan rumah serta Pesta Panen raya dan pemberian Gelar/Adoq.

Perlu Anda ketahui bahwa sebelum sebelum di selenggarakannya kegiatan Nayuh ini terlebih dahulu melaksanakan himpun adat dan himpun Minak Muakhi (Saudara) untuk menetapkan konsep dan sistem tahap pelaksanaannya yang dilakukan oleh seluruh kerabat.

Kegiatan ini berupa Nayuh akan melibatkan banyak pihak peralatan-peralatan yang akan dipertunjukkan yang berupa piranti adat. piranti sendiri dibagi menjadi 2 macam yakni "piranti di atas (di rumah) dan "piranti di bah" (arak arakan). Untuk pemakainya pun tepat berdasarkan ketentuan adat yang telah ditetapkan. Untuk penggunaan dari Piranti ini juga harus terlebih dahulu dilakukan penyesuaian berdasarkan dengan gelar atau Adok yang disandangnya.

Untuk mempersiapkan segala peralatan dan kebutuhan dari sistem "Nayuh" ini akan ditanggung secara bersama dan dikerjakan secara bersama pula oleh kerabat-kerabat sesuai dengan kebijakan dari pihak penyelenggara acara.

Adapun kelengkapan yang diperlukan dan akan dilaksanakan dalam acara Nayuh tersebut meliputi:

- Tandang Bulung.

Dimana para ibu-ibu akan bertandang ke kebun saudaranya untuk mencari daun (Bulung: bahasa daerah lampung untuk sebutan daun). yakni "Bulung Rilik" untuk alas tempat membuat kue khas pesisir seperti apam, ngengasan, dan kue lepot.

- Kecambai (Mencari Daun Sirih).
kegiatan kecambai ini sama halnya dengan kegiatan yang dilakukan ibu-ibu "Kebulung".
Namun, yang mereka cari adalah daun sirih untuk jamuan kepada ibu-ibu untuk dikinang bersama termasuk untuk tamu undangan.

- Nyani Buwak (Membuat Kue).

Karena acaranya yang begitu ramai dan cukup biaya yang mahal ataupun banyak dan juga akan dihadiri oleh tamu undangan dengan kegiatan yang sangat banyak dan padat, maka diperlukan sajian kue untuk dimakan bersama dan untuk menjamu tamu undangan selama penyelenggaraan. kue yang dibuat seperti kue tat dan sejenisnya, apam, jalabiya, ngengasan, juadah, cucor, salimpok gelamai, lepot, dll.

- Khambak Bebukha.
(Mempersiapkan adadab/pernak-pernik hiasan di rumah pengantin).

- Bugawi (Bekerja dari awal sampai selesai acara). Seluruh masyarakat dan kerabat akan berbondong-bondong hadir di tempat hajat baik malam, Pagi, dan siang. semuanya akan siap bekerja memenuhi Apa yang sedang kurang dan persiapan lain sampai menjelang hari H.

Selain itu dari pihak dan juga bayar, termasuk dari pihak "Kuakhi" akan memberikan bantuan berupa uang yang disebut "Duit lawai" dan berupa bahan mentah lainnya seperti Ayam, Bebek dan kambing. Ada juga bantuan yang diberikan oleh setiap orang yang terkena hajat diaebut dengan "Sesuduk".
Dimana sesuduk ini sendiri berupa bantuan seperti beras, minyak sayur, Garam, Gula, dan kelapa yang ditaruh di dalam "Bakul pekhambu" untuk langsung diberikan kepada pemilik hajat.

Kegiatan pernikahan dengan sistem ini sangat unik di mana kenakan sepakatan yang dilaksanakan selama tiga hari tiga malam terkhusus untuk menampilkan "Kedayok (kegiatan adat)" dengan menampilkan berbagai tarian- tarian adat khas daerah pesisir. seperti Sambai Bakas/Bebai yang dibawakan oleh muli mekhanai, bapak/ibu, dan selanjutnya tarian "Budamping".
(Sumber foto: instagram @andri_hendri)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel