Budaya Hahiwang Asli Sastra Lama Lampung Yang Hampir Punah


Hasbundoya.com - Tradisi Hahiwang merupakan salah satu jenis puisi lama bagi masyarakat lampung. Hahiwang ini juga dikenal dengan sebutan Ringget. Jika lihat dari bentuknya adat hahiwang hampir sama dengan puisi, hanya saja berbeda dari cara pengucapannya dengan memiliki 6 baris secara seuntai.

Saat memperagakan hahiwang dilantunkan seperti irama tangisan sedih. Sebap Hahiwang sendiri berisikan kesedihan atau kejadian dan mengandung pesan lanrangan untuk saling mengingatkan. Hahiwang ini sangat dikenal pada masyarakat Lampung pesisir.

Hahiwang sebagai sastra tradisional asli masyarakat Lampung, terutama pada masyarakat adat di 16 Marga Pesisir Barat. Melihat kondisi dari eksistensi Hahiwang ini sendiri sudah tergeserkan mendekati kepunahan. Hal ini di karenakan saat ini tidak semua orang mampu untuk membawakannya secara tepat.

Mungkin di daerah lain banyak istilah penyebutannya, namun ada dasarnya memiliki makna yang sama. Adapun pemakaian hahiwang ini selalu digunakan meliputi:

1. Sebagai pengantar saat upacara-upaca adat.

2. Sebagai pelengkap pada acara pelepasan khususnya pengantin wanita yang akan mengikuti suaminya.

3. Digunakan sebagai pelengkap pada acara Bucangget, yang di iringi dengan tarian adat.

4. Pada zaman dulu hahiwang juga digunakan sebagai pelengkap saat acara muda-mudi pada saat bukedayok.

5. Sebagai nyanyian disaat menidurkan anak, dan penghibur ketika anak sedang menagis.

6. Digunakan sebagai pengisi waktu luang, seperti bersantai dan bersendagurau dengan keluarga.

Budaya Hahiwang memang tradisi yang tak bisa terlupakan. Ini merupakan sebuah seni yang melantunkan syair berupa sastra Lampung, yang memiliki makna nasihat ataupun pesan moral. Hahiwang ini juga dibawakan pada saat acara-acara adat atau kegitan besar antar budaya.

Namun pada saat ini budaya hahiwang sudah jarang terdengar, mengingat para muli mekhanai sudah jarang mempelajarinya jika dibandingkan pada massa sebelumnya. Banyak sebagian mansyarakat mengganggap hahiwang ini akan segera punah. 

Hal ini dikarenakan generasi muda saat ini sudah terpengaruh dengan budaya-budaya luar sehingga membuat budaya asli lampung tersingkirkan, termasuk salah satu penyebabnya ialah semakin pesatnya kemajuan tekhnologi yang serba modern, sehingga hal seperti ini sudah tak lagi dibutuhkan.

Kuranganya kesadaran masyarakat dalam menggerakkan pemahaman budaya akan berdampak terhadap minimnya sumberdaya manusia dalam mengetahui sistem dan pola dari hahiwang tersebut. Padahal kita harus bangga dengan banyaknya budaya lampung yang ada, tinggal peran persatuan dari seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama melestariakannya secara merata, agar provinsi lampung tidak hanya dikenal dari segi pariwisatanya saja, akan tetapi bersamaan dengan sejumlah budaya wrisan yang sudah ada sejak zaman dahulu.

Berikut contoh video Hahiwang:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel