Tradisi Kakiceran Masyarakat Pugung Kabupaten Pesisir Barat, Hingga Kini Tetap Terjaga


Hasbundoya.com - Salah satu warisan budaya tak benda yang masih terlaksana di pesisir barat yakni "Tradisi Kakiceran" dimana dalam pelaksanaan nya setelah Idul Fitri dimulai pada 1 syawal yang sampai detik ini masih bertahan. Tepat di dua kecamatan yang meliputi kecamatan Lemong dan Pesisir Utara.

Budaya Kekiceran ini dilaksanakan dalam bentuk perlombaan selama satu tahun sekali, dalam rangka memeriahkan hari raya Idul Fitri dan dijadikan sebagai ajang mempererat tali silaturahmi antar sesama.

Acara kakiceran ini menampilkan beberapa jenis tarian khas daerah lampung yang dikemas secara unik. Selain menampilkan tarian, juga di iringi oleh alat musik rebana dengan ketukan yang khas dari masing-masing guru tari yang mengiringi tarian penari saat tengah pentas.

Diketahui pentas tari ini di tampilkan oleh anak-anak mulai dari SD dan SMP yang terdiri dari beberapa group perwakilan dari masing-masing pekon (Desa) yakni di dalam 3 Marga Adat. Dimana pekon pertama sebagai Tuan rumah waktu pelaksanaannya tepat pada 1 syawal, kemudian secara bergantian dengan pekon lain dimalam berikutnya hingga semua pekon mendapatkan giliran.

Waktu pelaksanaan acara kakiceran ini yakni pada malam hari dimulai pukul 19:30 sampai dengan selesai. Jika dilihat dari bentuk acara biasanya terdapat 2x putaran lomba tariannya, sehingga acara ini kerap selesai pada pagi hari sekitar pukul 06:00 wib. Setelah acara inti dimulai dan dilakukan pencabutan undian dan langsung dilakukan pengumuman terkait kategori tarian apa yanga akan ditampilkan.

Biasanya akan ada pemberitahuan dari panitia yang akan memutuskan. bagi yang mendapatakan angka ganjil akan mempersembahkan tari cipta dan yang genap menampilkan tarian adat.

Berikut dua jenis tarian yang ditampilkan sekaligus diperlombakan dari masing-masing group penari yang mewakili pekon masing-masing dengan kategori sebagai berikut:

1. Kategori Tari Adat

Kategori tari adat menampilkan tarian nyambai. Biasanya ditarikan oleh 2 orang atau 4 orang anak perempuan. Namum, semakin berkembanganya tari adat, sebagian menampilkannya dengan jumlah 5 hingga 7 orang dengan gerakan yang berbeda dari tari nyambai pada umumnya, namun tetap diiringi musik rebana dari guru tari.

Jika lihat dari ketukan rebana yang mengiri tari adat ini tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang. Apapun gerakan tarian ini, jika masih disebut tarian adat maka ketukannya tetap sama.

Inilah salah satu ciri khas dari tarian yang dimaksudkan. Setiap penari adat memakai pakaian adat lampung sai batin yakni meliputi siger, gunjung (sanggul), sinjang tapis, kipas, dan pernak pernik perhiasan pengantin lainnya.

2. Kategori Tarian Cipta

Tarian ini ditampilkan berdasarakan hasil ciptaan dari masing-masing guri tari. Tari ini menyajikan kisah dalam kehiduoan masyarakat lampung yang dituangkan dalam bentuk gerakan dan diperjelas dengan iringan lagu wayak secara beriringan. Ketukan dari musik pengiring sangat beragam tergantung kenyamanan dan kesesuaian berdasarkan judul tari yang diangkat.

Untuk kostum di kategori tari cipta ini dibebaskan yakni sesuai peran peserta masing-masing dalam memperagakan alur cerita. Jika berperan sebagai orang tua maka penampilan layaknya orang tua, begitu juga jika perannya sebagai tokoh tinggal menyesuaikan dengan atributnya. Setiap pekon menampilkan tari cipta ini berbeda-beda dan sangat unik.

Penyelenggaraan kegiatan ini dilaksanakan oleh muli mekhanai di setiap pekon. Jika biasanya 2 hari puasa seluruh muli mekhanai melakukan himpun guna membahas dan membentuk susunan panitia kakiceran.

Jika sudah terbentuk, maka yang bertugas sebagai guru tari langsung memulai persiapan yang diawali penentuan judul tarian hingga proses pelatihan menari kepada peserta anak-anak.

Adapun lokasi dari acara Kakiceran ini dilaksanakan di tempat terbuka yakni di tengah pekon (desa) yang disebut arena dengan dilengkapi dari susunan meja, kursi, penerangan, dan sound system oleh panitia.

Arena disusun seperti biasanya meliputi tempat pamong (Dewan juri), tokoh adat, pimpinan daerah. Termasuk tempat para tamu undangan, meja panitia, dan meja seluruh muli mekhanai.

Penyelenggaran waktu kakiceran ini sebagian sudah ditentukan sesuai kebiasaan sebelumnya, adapula di suatu marga menetukannya melalui undian.

Setiap pekon dalam 3 Marga akan jadi tuan rumah, contoh Marga Pugung Malaya yang terdiri atas 8 pekon tuha (Kampung Tua) yang meliputi Malaya, Cahaya Negeri, Lemong, Way Utong, Pardahaga, Tanjung Way Batang, Tanjung Sakti dan Tanjung Jati, tidak mengadakan sistem undian tapi lebih kepada urutan terdekat dimulai malam pertama pekon malaya, malam kedua cahaya negeri, sampai pekon tanjung.

Dalam pelaksanaan nya juga bersamaan dengan marga penengahan dan marga pugung tampak. Sehingga dalam 1 malam acara kakiceran ini dilaksanakan di tiga tempat.

Secara bergantian setiap pekon menghadiri acara kakiceran berdasarkan undangan yang ada. Namun, terdapat 2 pekon (Desa) hasil pemekaran yakni pekon Rata Agung dan Sukamulya yang tidak mengadakan Kakiceran melainkan mengisi kegiatan lebaran dengan Pesta Rakyat atau dengan acara halal bil halal.

Pada marga pugung penengahan memiliki 4 pekon tuha yaitu Penengahan, Bandar pugung, Bambang dan Pagar Dalam. 4 pekon ini juga mengadakan acara kakiceran yang sama. Sedang dipekon Sukabanjar yang secara adat masih termasuk marga dari pugung penengahan. Akan tetapi saat ini, secara letak administratif yang sudah masuk dalam kecamatan lumbok seminung, di Kabupaten Lampung Barat yang tidak mengadakan Kakiceran.

Jika dalam 1 malam terdapat tiga pekon yang menggelar acara Kakiceran, maka Anak Tari dan Guru Tari tersebut dibagi menjadi 3 Kelompok yang akan mengisi dan menghadiri 3 pekon tersebut. Namun, apapbila dalam 1 pekon hanya memiliki 1 atau 2 group anak tari, maka pihak guru tari siap mengkordiniri undian aagar semua pekon dapat terisi secara bergantian. Artinya setelah selesai menampilkan tari di lokasi, langsung bergegas menuju pekon lainnya.

Menjadi anak tari memiliki kesan tersendiri bagi anak-anak, dengan berlomba menampilkan tarian yang terbaik demi mengharumkan nama pekon dan dapat menambah pengalaman dibidang seni tari, pemahan budaya lampung, sebagai bentuk pelestarian budaya, dan menambah pergaulan antar sesamanya.

Setiap penyelenggaraan kakiceran tuan rumah juga menyiapakan hadiah untuk seluruh pemenang, dimulai kategori Tari Adat dan Tari Cipta dari masing-masing yang meliputi: Juara I, II, III, dan Juara Harapan, serta Juara Atribut yakni anak tari terbaik dan guru tari terbaik, hingga perebutan juara umum. Para pemenang akan mendapatakan hadiah berupa uang tunai, bingkisan, tropi, bahkan hadiah ayam, dan kambing.

Acara kakiceran diatur oleh semua muli mekhanai, sebagai biaya acara tersebut diperoleh dari sumbangan masyarakat di masing-masing pekon. Panitia petugas muli mekhanai yang khusus menangani di bagian keuangaan akan terus memantau kecukupan dan kekurangan dari dana yang terkumpul.

Budaya kakiceran ini begitu unik dan menarik sebagai bentuk pelestarian adat budaya warisan nenek moyang yang harus dijaga dan dipertahankan. Mengingat acara ini dilakukan dalam memeriahkan hari raya idul fitri dan moment dimana semua minak muakhi (saudara) berkumpul dari perantauan.

Adanya warisan budaya tak benda ini memberikan warna tersediri untuk kabupaten Pesisir Barat yang saat ini begitu dikenal. Setelah terbentuk menjadi kabupaten yang memiliki letak wilayah disepanjang pantai sebagai tempat wisata primadona bagi pengunjung semakin ramai di perbincangkan.

Selain itu, tradisi warisan budaya yang masih tetap terjaga yang hingga kini masih dilesatarikan membuat nama kabupaten pesisir barat semakin populer.

Oleh karena itu, selaku masyarakat pesisir barat mari kita lestarikan adat budaya jangan sampai terlupakan. Kalau bukan kita siapa lagi, jika tidak sekarang kapan lagi. Semoga bermanfaat, Tabikpun...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel