Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Budaya "Ngaghun" di Daerah Lampung

Ngakhun atau majak bakhong (masak bersama) merupakan salah satu tradisi masyarakat melayu yang masih dilakukan oleh masyarakat, termasuk di daerah Lampung. 

Ngakhun ini bertujuan membantu untuk meringankan dalam menyelesaikan pekerjaan, khususnya saat memasak air minum dan menanak nasi untuk seluruh tamu undangan disaat acara pernikahan, kematian, dan kegiatan lainnya.

Budaya ngaghun dilakukan oleh Bujang Gadis (muli mekhanai) yang khusus membantu menyelesaikan pekerjaan dapur, dalam membantu tuan rumah. kegiatan ini akan mengakibatkan terjadinya kebersamaan dan saling mengenali antar sesamanya.

Biasanya tempat ngakhun ini dilakukan dipelataran rumah tetangga, samping, atau dibuatkan gubuk khusus oleh tuan rumah. Pada zaman dahulu kegiatan ngakhun ini banyak menjadi tempat cari jodoh bagi muli dan mekhanai.
Ngakhun akan di pimpin oleh panutan/ketua yang disebut kepala bujang untuk mengatur dan memberikan instruksi kepada para Bujang Gadis sesuai informasi dari pihak tuan rumah.

Di setiap acara pernikahan partisipasi dari Bujang Gadis (muli mekhanai) selalu dilibatkan, mulai dari pengumpulan dan mencari sayuran di kebun secara bersama, dan membuat hiasan manik-manik di rumah pengantin.

Kegiatan ngakhun ini biasanya mulai dilakukan pada waktu tengah malam sekitar pukul 01:00 wib, tergantung kebijakan pangan tuha (kepala bujang) sebelum adzan shubuh berkumandang. 

Pada saat waktu ngakhun ini sudah ditentukan, para muli mekhanai sebagian menginap di tempat tentangga, atau kerabat dekat, bahkan dituan rumah. Hal ini menghindarkan agar tidak bangun siang dan mudah untuk mengingat agenda tersebut.

Biasanya kepala bujang selaku koordinator muli mekhanai akan menentukan tempat penginapan khusus muli dan mekhanai, sehingga disaat waktu ngakhun tiba kepala bujang akan mudah membangunkan seluruh muli mekhanai agar bersiap untuk bekerja.

Pada saat ngakhun berlangsung muli mekhanai akan dijamu dengan suguhan kopi, teh, dan rokok, oleh tuan rumah dan kerabat, sembari bekerja menanak nasi dan merebus air hingga selesai. 

Setelah pekerjaan ngakhun selesai, selanjutnya seluruh muli mekhanai melakukan makan bersama. Menjelang adzab shubuh semua kegiatan sudah selesai, muli mekhanai waktunya pamit dan pulang kerumah masing-masing. 

Tibalah giliran para ibu-ibu yang bekerja menggantikannya, yakni menyiapkan sayuran lauk dan menyiapkan nasi, air minum yang sudah matang, agar siap untuk disajikan kepada seluruh tamu.

Cara ini sudah menjadi kebiasaan atau tradisi yang bersifat turun temurun sejak zaman sebelumnya. Masyarakat melayu sangat kental akan tradisi, adat istiadat warisan leluhur. Maka tak heran, apapun kegiatan masyarakat tersebut akan terselenggara dengan lancar dan sukses.